mumu ayu

mumu ayu

Rabu, 13 April 2011

indikator kesehatan wanita


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :
 Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
 Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.



B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui kesehatan ibu di Indonesia
2.      Untuk mengetahui kesehatan reproduksi remaja di Indonesia
3.      Untuk mengetahui tentang keluarga berencana
4.      Untuk mengetahui indikator pendidikan
5.      Untuk mengetahui indikator penghasilan




















BAB II
INDIKATOR KESEHATAN WANITA

1.      Kesehatan ibu di Indonesia
Kehamilan dan persalinan merupakan penyebab kematian, penyakit dan kecacatan pada perempuan usia reproduksi di Indonesia. Survey demografi kesehaatan Indonesia ( SDKI ) 2002/2003, melaporkan angka kematian ibu( AKI ) sebesar 307/100.000 kelahiran hidup.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan, dan nifas dalam satu tahun dibagi dengan jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama dengan persen atau permil.
Rumus :
AKI =                    jumlah kematian ibu karena
Kehamilan, kelahiran & nifas              x 100% ( 1000)
Jumlah kelahiran hidup
Pada tahun yang sama
Tingginya AKI di Indonesia antara lain di sebabkan oleh aborsi tidak aman. SKRT 1995, memperkirakan bahwa aborsi tidak aman berkontribusi terhadap kematian ibu sebesar 11,1 % atau 1 dari setiap 9 kematian ibu. Diduga angka sebenarnya bisa mencapai 30 % ( kompas 2002). Penelitian di 10 kota besar dan 6 kabuapten di Indonesia memperkirakan bahwa secara nasional ada 2 juta kasus aborsi setiap tahunnya ( Utomo, 2001 ) atau sekitar 70 % dari seluruh kasus aborsi di setiap asia tenggara pertahunya. Dengan perkataan lain, pada setiap 1000 perempuan berusia 15 – 45 tahun ada sekitan 37 kasus aborsi pertahun.
Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasan asia.reformasi selama hamper 6 tahun berjalan tidak memperbaiki persoalan perempuan Indonesia. Kasus kekerasan, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat, rendahnya pendidikan serta dominasi kaum pria dalam rumah tangga masih terjadi. Provinsi penyumbang kasus kematian ibu melahirkan terbesar ialah papua 730/100.000 kelahiran, nusa tenggara barat 370/ 100.000 kelahiran, Maluku 340/100.000 kelahiran, nusa tenggara timur 330/100.000 kelahiran. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari masa orde baru. Reformasi belum mampu memperbaiki sejumlah kasus yang menimpa kaum perempuan terutama ibu melahirkan.
2.      Kesehatan Reproduksi remaja Indonesia
WHO (1965) mendefinisikan masa remaja merupakan periode perkembangan antara pubertas, peralihan biologis masa anak-anak dan masa dewasa, yaitu antara umur 10-20 tahun. Hasil Sensus (SP) 1990 dan SP 2000 menunjukkan proporsi remaja berusia 10 sampai 24 tahun di Bali sebesar 32,12 persen dan 26,29 persen.
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
Masa remaja dibedakan dalam :
  1. Masa remaja awal, 10 – 13 tahun.
  2. Masa remaja tengah, 14 – 16 tahun.
  3. Masa remaja akhir, 17 – 19 tahun.
Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan :
  1. Mulai menstruasi.
  2. Payudara dan pantat membesar.
  3. Indung telur membesar.
  4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
  5. Vagina mengeluarkan cairan.
  6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
  7. Tubuh bertambah tinggi.
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
  1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap.
  2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
  3. Tumbuh kumis.
  4. Mengalami mimpi basah.
  5. Tumbuh jakun.
  6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
  7. Penis dan buah zakar membesar.
Perubahan psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab, yaitu :
  1. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya.
  2. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua.
  3. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri.
  4. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya.
Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya.
Besarnya proporsi penduduk berusia muda, secara teoritis mempunyai dua makna, Pertama, besarnya penduduk usia muda merupakan modal pembangunan yaitu sebagai faktor produksi tenaga manusia (human resources), apabila merekadapat dimanfaatkan secara tepat dan baik. Memanfaatkan mereka secara tepat dan baik diperlukan beberapa persyaratan. Di antaranya adalah kemampuan keakhlian, kemampuan keterampilan dan kesempatan untuk berkarya. Kedua, apabila persyaratan tersebut tidak dapat dimiliki oleh penduduk usia muda, yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu penduduk usia muda justru menjadi beban pembangunan.
Remaja memiliki dua nilai yaitu nilai harapan (idelisme) dan kemampuan. Apabila kedua nilai tersebut tidak terjadi keselarasan maka akan muncul bentuk-bentuk frustasi. Macam-macam frustasi. Macam-macam frustasi ini pada gilirannya akan merangsang generasi muda untuk melakukan tindakan-tindakan abnormal ( menyimpang).
Dari sudut pandang kesehatan, tindakan menyimpang yang akan mengkhawatirkan adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas ( unprotected sexuality ), penyebaran penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah atau kehamilan yang tidak dikehendaki ( adolecent unwanted pragnancy ) di kalangan remaja. Masalah-masalah yang disebut terakhir ini dapat menimbulkan masalah-masalah sertaan lainnya yaitu aborsi dan pernikahan usia muda. Semua masalah ini oleh WHO disebut sebagai masalah kesehatan reproduksi remaja, yang telah mendapatkan perhatian khusus dari berbagai organisasi internasional .
Dari beberapa penelitian tentang perilaku reproduksi remaja yang telah dilakukan, menunjukkan tingkat permisivitas remaja di Indonesia cukup memprihatinkan. Faturochman (1992) merujuk beberapa penelitian yang hasilnya dianggap mengejutkan, seperti penelitian Eko seorang remaja di Yogyakarta (1983). Penelitian SAHAJA di Medan (1985) dan di Kupang (1987), dan penelitian yang dilakukan oleh Unika Atmajaya Jakarta dengan Perguruan Ilmu Kepolisian. Semua penelitian tersebut
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena
kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling
berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.
Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid
pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3).
Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat
ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse).
Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376).Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (AKipke et al., 1997:360-367).
Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997). menunjukkan bahwa remaja di daerah penelitian yang bersangkutan telah melakukan hubungan seksual.

Penelitian-penelitian tentang kesehatan reproduksi remaja yang pernah dilakukan di Bali memberikan gambaran yang tidak jauh berbeda dengan penelitian di daerah lainnya. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan di Bali di antaranya oleh Faturochman dan Sutjipto (1989), Mahaputera dan Yama Diputera (1993), Tjitarsa (1994), dan Alit Laksmiwati (1999).
3.   KB
            KB adalah singkatan dari Keluarga Berencana.maksud daripada ini adalah: "Gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran."
Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD dan sebagainya.
Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua. Gerakan ini mulai dicanangkan pada tahun akhir 1970'an pada :
·         Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami isteri yang isterinya berusia 15-49 tahun. Ini dibedakan dengan perempuan usia subur yang berstatus janda atau cerai. 
·         Pemakai alat/cara KB adalah seseorang yang sedang atau pernah memakai alat/cara KB.
·         Pernah pemakai alat/cara KB (ever user) adalah seseorang yang pernah memakai alat/cara KB.
·         Pemakai alat/cara KB aktif (current user) adalah seseorang yang sedang memakai alat/cara KB.
·         Alat/cara KB adalah alat/cara yang digunakan untuk mengatur kelahiran.
·         Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need) adalah persentase perempuan usia subur yang tidak ingin mempunyai anak lagi, atau ingin menunda kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara KB.

Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal. Ciri – ciri suatu kontrasepsi yang ideal meliputi daya guna, aman, murah, estetik, mudah didapat, tidak memerlukan motivasi terus – menerus, dan efek sampingan minimal.

4.      Indikator Penghasilan
Penghasilan perempuan meningkat, maka pola pemenuhan kebutuhan akan bergeser, dari pemenuhan kebutuhan pokok saja, menjadi pemenuhan kebutuhan lain, khususnya peningkatan kesehatan perempuan.
5.      Indikator Pendidikan
1.      Angka melek huruf
Secara nasional sudah mencapai 87.9%, pada laki – laki sebesar 29.3 % dan pada perempuan sebesar 83.5%
2.      Rata – rata lama sekolah
Tahun efektif bersekolah pada umur lebih 15 tahun sebesar 7.09% dimana pada laki – laki 7.62% dan perempuan 6.57%. angka ini menunjukkan bahwa secara rata – rata pendidikan penduduk mencapai jenjang pendidikan kelas 1 SMP.
3.      Jenjang pendidikan yang telah di tambahkan.
Pada tahun 2003 penduduk usia lebih dari 10 tahun yang berpendidikan SMP hanya 36.21% pada laki – laki sebesar 39.87 % dan perempuan 32.57%.
            Kondisi ini menunjukkan tentang taraf pendudukan perempuan belum setara dengan laki–laki hal ini dikarenakan terbentuk konstruksi yang terbentuk dalam masyarakat.
Pendidikan yang tinggi di pandang perlu bagi kaum wanita, karena tingkat pendidikan yang tinggi maka mereka dapat meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri. Seorang wanita yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berperilaku hidup sehat bila di bandingkan dengan seorang wanita yang berpendidikan rendah. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka ia semakin mammpu mandiri dengan sesuatu yang menyangkut diri mereka sendiri.semakin tinggi pendidikan wanita akan mudah menerima hal – hal yang baru dan mudah menyesuaikan diri dengan masalah baru. Meningkatnya pendidikan berdampak pada pengalaman dan wawasan yang semakin luas, dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik khususnya yang berhubugnan dengan kesehatan. Pendidikan dapat meningkatkan status social dan kedudukan seorang perempuan dalam masyarakat, sehigga perempuan tersebiut dapat meningkatkan aktifitas sehari – hari maupun akfitas sosialnya. Menurut profil klasifikasi perempuan di berbagai Negara menunjukkan bahwa pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan perempuan Indonesia di nilai sangat buruk.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kehamilan dan persalinan merupakan penyebab kematian, penyakit dan kecacatan pada perempuan usia reproduksi di Indonesia. Survey demografi kesehaatan Indonesia ( SDKI ) 2002/2003, melaporkan angka kematian ibu( AKI ) sebesar 307/100.000 kelahiran hidup. KB adalah singkatan dari Keluarga Berencana.maksud daripada ini adalah: "Gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran." Penghasilan perempuan meningkat, maka pola pemenuhan kebutuhan akan bergeser, dari pemenuhan kebutuhan pokok saja, menjadi pemenuhan kebutuhan lain, khususnya peningkatan kesehatan perempuan. Pendidikan yang tinggi di pandang perlu bagi kaum wanita, karena tingkat pendidikan yang tinggi maka mereka dapat meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri
B. Saran
1. diharapkan kepada semua wanita agar sedini mungkin menjaga kesehatan reproduksinya.
2. diharapkan kepada setiap remaja diindonesia agar dapat mengenal serta menjaga kesehatan reproduksinya
3. diharapkan kepada setiap keluarga agar ikut berpartisipasi dalam membentuk keluarga berencana.
4. diharapkan dengan adanya penghasilan wanita dapat menunjang pemenuhan kebutuhan lainnya khususnya peningkatan kesehatannya.
5. diharapkan dengan meningkatnya tingkat pendidikan wanita dapat meningkatkan taraf hidup dan membuat keputusan masalah yang menyangkut kesehatan sendiri.


















DAFTAR PUSTAKA
-          Wiknjosastro, 2007. Ilmu kebidanan, Ed.3.Jakarta : YBP-SP
-          www.google.com































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar